Amazon Contextual Product Ads

Selasa, 05 Mei 2015

TANGGA

KEMBALI PADA TANGGA


By Kevin


Ada yang kini terpinggirkan pada bangunan-bangunan tinggi. Tangga. Elemen ini kini biasanya dijadikan jalur dalam keadaan darurat saja. Dalam kondisi normal, orang akan memencet tombol untuk berpindah level.


TANGGA, selain menjadi tidak seberfungsi dulu, terkait dengna isu lain, kesehatan dan energy. Hal ini menarik perhatian department of health and mental hygiene’s AS. Di gedung itu, dipasang poster kampanye yang berbuny, “Burn caloris”, not electricity. Take the stairs!” Kampanye ini bertujuan menurunkan menurunkan tingakt obesitas dan gaya hidup tak sehat sekaligus mengajak orang-orang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Tentu saja kita tidak harus menggunakan tangga untuk naik sampai tujuh lantai. Memanfaatkannya untuk dua atau empat lantai pun sudah merupakan kontribusi yang positif.


Menggunakan tangga untuk berakitivitas berdampak signifikan terhadap kesehatan. Seperti kita ketahui, tingkat obesitas di AS tinggi sekali. Sebuah penelitian bahkan megnungkapkan, jika orang Amerika meluangkan waktu untuk menggunakan tangga dua mint lebih lama setiap harinya, mereka dapat membakar kalori dan nantinya bisa mencapai berat badan rata-rata.


Masalahnya, meski kita tahu bahwa menggunakan tangga lebih sehat dan lebih ramah lingkungan daripada memakai lift, rasa malas kerap menghalangi niat memilih tangga. Selain itu, jika tangga berada di posisi yang tidak strategis ata utidak terawatt, kita merasa tidak nyaman menggunakan tangga tersebut. Memahami hambatan psikologis ini, New York City menerapkan strategi lain. Mendorong orang naik tangga dengan mendesain tangga semenarik mungkin.


Arsitek Tim Burney juga pernah memberikan pernyataan, “Ada masa sebelum lift, ketika tangga merupakan kesempatan besar arsitek untuk mengeksplorasi ruang tiga dimensi.” Sebelum ada lift, tangga menjadi bagian dari ekplorasi kreatif para arsitek. Mereka berupaya mendesain tangga dengan estetis. Hal ini membangun kesempatan bagi para arsitek untuk memberikan solusi yang cerdas.


Hal inilah yang dilakukan Edge Design Institute di Hong KOng. Mereka mengubah tangga umum yang sepi menjadi tempat yang menarik untuk didatangi dalam apa yang mereka sebut The Cascade Project. Terletak di The Centrium, susunan anak tangga ini menawarkan pengalaman berbeda dengan adanya patung-patung asimetris yang bisa dijadikan tempat duduk di baigan pinggirnya. Sistem pencahayaan yang menciptakan atmosfer hangat dihadirkan untuk membuat ruang itu nyaman bahkan di malam hari. Nah, bagaimana cara kita di sini untuk membuat orang kembali tergerak untuk memilih tangga.

Sabtu, 04 April 2015

Karpet

Ornament |Menyesuaikan Bentuk Karpet dengan Ruangan

By Kevin

Ornament suatu ruang dapat semakin tampak cantik dengan kehadiran selembar karpet. Secara umum, sebagaimana ditulis Ideaonline.co.id, karpet berbentuk persegi panjang menjadi yang paling banyak dipilih. Alasannya, bentuk ruang pada umumnya adalah kotak.

BOLEH-BOLEH saja jika kita mau menerapkan bentuk karpet bulat atau oval. Namun, perlu diperhatikan juga factor harmonisasi  ruang. Karpet berbentuk built ibsa dipakai untuk “mengikat” perabotan di ruang keluarga. Namun, jika ruang tersebut berbentuk persegi, akibatnya akan muncul kesan penuh. Karpet bulat lebih pas dipakai sebagai dasar meja yang berada di foyer. Pasalnya, meja akan  terliaht angguna dan memiliki hierarki yang tinggi.

Bila kita membeli karpet dengan tujuan untuk mempercantik ruang, sebaiknya amati dulu pola ruangan secara keseluruhan. Perhatikan warna dinding, bentuk dan bahan meja-kursi, model pintu dan kusen, serta elemen lainnya. Ini penting agar kita bisa memilih karpet  yang dapat menghadirkan  komposisi yang pas. Saat padu padan tersebut, usahkan salah satu elemen tidak tampil terlalu keras atau lembut.

Adapun memasang karpet berbentuk oval juga sah-sah saja asal sesuai proporsi dimensi ruangan. Karpet oval dianggap lebih sesuai jika diletakkan pada baigan foyer. Kalau karpet ini akan dipasang di ruang tamu atau ruang keluarga, meja-kursi di atasnya harus lebih kecil dari ukuran karpet. Hal ini penting agar penampilan karpet tidak kalah menarik dari perabotan yang ada di atasnya.

Yang juga jangan dilupakan, karpet juga punya banyak “musuh”. Siapa lagi kalau bukan debu, noda makanan, hingga ompol si kecil. Beberap tindakan sederhana dapat dilakukan untuk mengusir musuh-musuh tadi. Yang penting, karpet harus dibersihkan secara teratur agar warnanya awet dan bebas dari kuman penyakit.

Untuk membersihkan debu yang menempel di karpet, gunakan alat pengisap debu (vacuum cleaner berkekuatan hisap yang mumpuni) minimal tiga kali sebulan. Beberapa orang bahkan menaburkan soda kue ke atas karpet satu jam sebelumnya. Sekali dalam enam bulan, cucilan karpet dengan deterjen khusus. Kegiatan ini akan merepotkan dan memerlukan tempat yang luas untuk menjemur. Oleh sebab itu, kita bisa memanfaatkan jasa pencucian karpet yang sudah mudah ditemui di lingkungan perkotaan.

Seitap dua atau tiga bulan sekali kita bisa mengubah posisi  karpet agar bidang yang sering diinjak atau dilewati orang bisa  berganti posisi. Ini perlu dilakukan agar warna karpet selalu seimbang (tidak terkesan belang).

Karpet juga tak bisa lepas dari ancaman noda, semisal tetesan es krim atau rempah penganan dan sebagainya. Bila terlanjur terpapar noda, kita bisa menggunakan alcohol. Caranya, basahi kain kering dengan alcohol lalu tekan kain secara perlahan pada karpet yang terkena noda es krim tadi.

Selasa, 03 Maret 2015

Meja Makan

Pilih Persegi, Bundar, atau Elips?




FURNITUR yang kita pasang di rumah kadang turut menciptakan mood bagi penghuni rumah. Semisal, kita memasang kursi malas dari ranting pohon jati, suasana di ruang keluarga menjadi pas untuk beristirahat atau berkegiatan ringan.


Begitu pula menempatkan furniture minimalis praktis di dapur. Ibu bisa tidak merasa lelah memasak bergam penganan kesukaan keluarga, sebab perabotan yang praktis memudahkan kesibukan di dapur.


Furniture juga bisa menyulap suatu ruangan tampak trendy, meski lahannya terbatas. Yang penting kita tak salah pilih furniture dan menggunakannya sesuai kebutuhan.


Bila ukuran rumah terbatas, biasanya kita mengakali kesan ruangannya dengan memilih furniture kecil dan tembus pandang. Begitu pula sebaliknya, jika tipe rumah kita luas. Padahal, bentuk furniture dapat pula kita pakai untuk bersiasat.


Kita ambil contoh meja makan. Di toko mebel, banyak dijual meja makan berbentuk bujur sangkar, persegi panjang, elips, hingga bundar. Kita bisa memilih yang paling oke untuk ruang makan kita.


Meja makan bujur sangkar, sesuai bentuknya yang sederhana dan sama sisi, akan tampak menarik jika berdiam dalam ruang makan mungil. Meja seperti ini dapat menambah keakraban seluruh anggota keluarga saat menikmati sarapan atau makan malam. Namun, jangan memilih meja ini bila ruangannya panjang. Kesannya menjadi aneh.


Bila ruang makan kita memanjang, meja makan persegi panjang tentu menjadi pasangan yang apik. Selain berfungsi untuk penyeimbang, meja ini memiliki kapasitas kursi yang lebih banyak.


Meja persegi memang dianggap yang paling cocok untuk semua bentuk ruang makan. Namun, bila ruang maka nkita cukup luas, tak ada salahnya kita memilih meja makan berbentuk lingkaran atau elips.


Meja makan bundar atau elips amat seksi bila berdiri pada ruangan yang lapang. Bentuk lingkaran dan elips menghadirkan atmosfer yang hangat karena sifatnya yang memusat. Akan tetapi, elips kesanya lebih informal.

Nah, sekarang tinggal pilih yang cocok dengan ruang makan kita.


Senin, 02 Februari 2015

Yoga Bersama INES

INES SOMELLERA
Maria Hartiningsih dan Frans Sartono

Hidup selalu diisi kebetulan-kebetulan bermakna yang membawa seseorang menuju tujuan yang dikehendakinya. Seperti sudah digariskan. Begitu Ines Somellera (45) memaknai pengalamannya. 

Nama Ines tak terpisahkan dari yoga, praktik yang menyatukan gerak tubuh dengan pikiran dan perasaan, bersumber dari teks-teks kuno India yang konon usianya lebih dari 3.000 tahun. Namun, kata Ines, evolusi alamiah menjadikan ekspresi yoga disesuaikan dengan kebutuhan hari ini, menjadi milik siapa pun, bisa ditemui di mana saja, dan saling memengaruhi. 

”Yoga adalah pengetahuan tentang bagaimana tubuh bekerja dan tentang kesalingterkaitan antara tubuh, pikiran, dan perasaan. Yoga membantu kita memerhatikan dengan baik tubuh kita, diri kita, dan apa pun yang ada di alam,” katanya melanjutkan.

Ines paham kehidupan di kota besar membuat orang seperti mesin. Kesibukan membuat orang terpenjara oleh waktu dan tak mampu mengingat hakikat alamiahnya. Pada waktu istirahat, pikiran melayang. Sebaliknya, saat tubuh kelimpahan energi, orang sibuk bekerja dalam duduk dan berpikir.

Akibatnya, energi terperangkap di dalam tubuh, menyebabkan rasa sakit, yang mungkin bisa diatasi dengan obat, tetapi akarnya tak tersentuh; hidup tak berimbang itu.

Tubuh manusia dirancang untuk bergerak, tetapi banyak orang hanya punya sedikit pengetahuan bagaimana tubuh bekerja. ”Mereka memerlukan yoga untuk membantu melanjutkan perjalanan,” begitu Ines menyederhanakan bahasa sulit para yogi, seperti BKS Iyengar.

Cermin hati 

Kita harus berhenti berpikir bahwa yoga itu sulit, lanjut Ines. ”Saya sangat suka mengajar dan berbagi untuk bilang, yoga tidak sulit,” tuturnya.

Yoga itu sederhana karena semua berawal dari bernapas. Kita tidak memulai dengan melipat kaki di bawah kaki.

”Kalau saya bilang, ayo letakkan tanganmu di punggung,” ia menggerakkan tangannya ke punggung, ”Pikiranmu harus mengikuti gerakan, berhenti memikirkan yang lain. Kembalikan pikiran ke tubuhmu.” Kata orang bijak, yoga adalah cermin hatimu.

”Kalau berlatih dengan perasaan tak keruan, atau sedang marah, tidak fokus dan nervous, akan ada saja yang salah dari gerakanmu,” kata Ines.

Makin banyak berlatih, makin banyak kesempatan memberimbangkan tubuh dengan pikiran dan perasaan karena saat melakukan yoga kita berada di wilayah yang paling intim dengan diri sendiri.

Ines selalu mengatakan, yoga adalah seni; sempurna untuk merayakan hidup. ”Yoga membantumu menjadi anggun dan cantik. Cantik itu bukan kesempurnaan bintang Hollywood, tetapi ketika Anda mencapai keberimbangan.” 

Ines memasukkan unsur yoga dalam setiap kegiatan berkesenian, dan sempat berkolaborasi dengan banyak seniman tari. Belakangan ia juga jatuh cinta dengan pencak silat dari Sumatera setelah berkenalan dengan komunitas seni Gusmiati Suid. Namun sebenarnya ia jatuh cinta dengan ragam budaya di Indonesia
”Saya juga mencintai Bedoyo,” ungkapnya, menyebut tarian adiluhung dari Keraton Solo dan Yogyakarta itu, ”Tapi susah. Hal terdekat ke Bedoyo adalah tai chi karena tai chi memiliki gerakan yang sangat lambat dan lembut. Melalui pernapasan kita membuat gerakan dan keberimbangan.”

Lalu, bagaimana Ines mengenal yoga?

”Bisa dibilang, yoga memilihku.” Ia mengenang peristiwa patah hati ketika usianya 15 tahun. ”Seperti datang begitu saja, menyelamatkan saya dari kesedihan. Lalu, saya selalu membawanya dalam perjalanan hidup.”

Menemukan diri 

Sebenarnya yoga bukan sesuatu yang asing. Di kota tempat tinggalnya, di Guadalajara, Meksiko, pusat pelatihan yoga bertebaran. Ayahnya bahkan pernah membuka yoga center.

Namun, anak kedua dari tiga bersaudara itu sibuk belajar seni pertunjukan. Ia ingin menjadi aktris. Orangtuanya menentang, dan mengirimkannya kuliah di jurusan komunikasi, yang ternyata adalah jalan menuju cita-citanya. 

Kebosanan akan hiruk pikuk New York membawa Ines kembali ke Bali, padahal kariernya dalam seni pertunjukan, boleh dibilang, sedang di puncak.

”Saya ingin keluar dari dunia Barat yang segala sesuatunya telah menjadi repetitif, dan banyak kekerasan setelah tragedi 11 September. Saya ingin menemukan diri saya yang baru....”