Amazon Contextual Product Ads

Selasa, 11 November 2014

Awali Penghematan Energi dari Dapur

By Kevin


Penghematan energy dapat dimulai dari mana saja, salah satunya dari dapur. Sebagaimana kita ketahui, dapur merupakan ruang pengolahan bahan makanan yang digunakan setiap hari. Pengolahan makanan tersebut memerlukan air, api, listrik, dan gas, dan bahan bakar lainnya. Penggunaan energy yang efisien di dapur pada akhirnya dapat menghemat penggunaan energy dan biaya di rumah secara menyeluruh. Sebenarnya, hanya diperlukan langkah-langkah sederhana untuk menghemat penggunaan energy di dapur, di antaranya sebagai berikut.:

Pastikan area dapur memiliki ventilasi, minimal sebesar 20 persen dari luas lantai. Pemanfaatan cahaya matahari yang optimal dapat menghemat energy karena mengurangi penggunaan lampu.

Tempatkan kulkas minimal 15 centimeter dari tembok rumah. Hindarkan peletakkan kulkas berdekatan sumber panas seprti komor, oven, radiator, dan cahaya matahari langsung. Perbedaan termperatur yang ekstrem dapat mengurangi efisiensi kerja setiap alat sehingga daya yang dibutuhkan lebih besar. Hindarkan juga meletakkan lemari pendingin dari cahaya matahari langsung.

Atur suhu kulkas pada suhu ideal yang berada dikisaran 2-4 derajat celcius. Untuk freezer, atur pada suhu ideal 17 sampai 15 derajat Celsius. Sebaiknya ganti kulkas yang sudah tua, yang dibeli tahun 2001 dan sebelumnya dengna kulkas baru. Hal ini mengingat dalam 10 tahun, kulkas mengalami peningkatan kebutuhan daya hingga mencapai 75 percent. Sementara, kulkas baru dengan standar hemat energy dapat menghemat hingga 20 percent.

Gunakan lampu setempat (task lighting) untuk memasak. Nyalakan saat benar-benar dibutuhkan saja.

Pada saat memasak, tutuplah panic/penggorengan untuk mencegah hilangnya panas yang dihasilkan api. Bila panas terbuang, makanan lebih lama matang sehingga bahan bakar yang dibutuhkan akan lebih banyak.

Informasi lebih lanjut mengenai Interior Design, silakan menghubungi  bilikbagus.blogspot.com atau ornamentlandscape.blogspot.com

Jumat, 10 Oktober 2014

TAMAN

Mau Pilih Taman yang Mana?

By Kevin

Rumah tanpa taman akan terasa kering kerontang. Sesederhana atau semungil apa pun bentuknya, taman bisa dihadirkan di semua jenis bangunan.

BERIKUT ini beberapa model taman yang banyak diadopsi di Indonesia, diolah dari sejumlah literatur.

Taman Bali


Budaya Bali juga acap menginspirasi dalam pertamanan. Itulah sebabnya saat ini taman Bali menjadi tren di Indonesia dan mancanegara. Karakter tama nBali amat kuagt sehingga tak semua model rumah bisa selaras dengan taman ini. Penanda taman Bali ada pada penggunaan pintu gerbang khas Bali, patung tokoh pewayangan, gazebo, dan kolam.

Taman Mediterania


Taman yang juga bisa dihadirkan untuk rumah minimalis adalah taman Mediterania. Tanaman yang umumnya mengisi taman ini, misalnya yucca, nolina, dan sikas. Adapun ornament utama dari taman ini adalah pot dengan penyangga, patung, lampu taman, batu koral, dan kolam ikan. Bentuk taman ini realtif lebih simetris disbanding model taman lainnya.

Taman Eropa


Desain taman ini cukup kompleks. Bunga berwarna-warni menjadi salah satu tanda model taman Eropa. Juga ditambahkan ornamen-ornamen yang menunjukkan detail yang kuat dan beraroma Eropa. Disbanding taman yang lain, model ini umumnya memiliki ukuran yang cukup luas.

Taman Jepang


Ini merupakan taman yang menegaskan unsur Negeri Matahari Terbit. Ciri khasnya adalah adanya tanaman dan pernak-pernik bergaya Jepang, semisal bamboo, kolam ikan koi, bonsai, dan lonceng angin. Taman model ini pas untuk rumah minimalis yang tak membutuhkan banyak ornament.

Taman Vertikal


Model taman ini juga bisa menjadi pilihan jika di ruma htak punya lahan yang cukup luas. Karena konsepnya berdiri, dinding dapat menjadi area taman ini. Jenis tanaman yang bisa dipakai untuk taman vertical cukup terbatas. Namun, dengan penataan yang terencana dan apik, taman ini dapat mengundang suasana yang benar-benar berbeda. Jika diaplikasikan dalam unit apartemen, suasananya akan terasa lebih sejuk.

Taman Kering


Taman kering tak banyak berbeda dengan taman lainnya. Disebut demikian karena tanaman yang mendominasi model taman ini tak memerlukan banyak air. Dengan demikian, taman ini juga tak banyak membutuhkan air. Taman kering menjadi pilihan yang pas jika di rumah tak ada lahan yang cukup luas. Taman ini bisa diterapkan di dalam rumah.

Selasa, 09 September 2014

Ragam

Vertical, Model Pertanian Masa Depan

By Kevin


Dengan luas daratan lebih dari 1,9 juta kilometer persegi, Indonesia seharusnya memiliki cukup lahan untuk pertanian. Namun, tidak demikian dengan negara-negara yang laus wilayahnya Cuma ‘sejengkal’. Mereka setengah mati mengusahakan eprtanian agar rakyatnya tetap mampu menikmati sayur-mayur dan buah-buahan segar. Beberapa negara yagn kekurangan lahan pertanian mengembangkan pertanian atau perkebunan vertical. Beriktu sejumlah gambaran tentang pertanian vertical yang diolah dari property.kompas.com

Pada 2013, Forbes mengabarkan kota dengan harga hunian termahal adalah HongKong. Rata-rata harga rumah di sini mencapai 7.200 poundsterling per kaki persegi ata usetara 106,8 juta per kaki persegi. Dengan demikian, harga sebuah ruma hmewah di HongKong bisa mencapai 845,7 miliar rupiah.

Serbahemat

MEMBANGUN pertanian vertical ternyata mudah. Setidaknya itu menurut seorang pengusaha asal Singapura, Jack Ng. ia menciptakan Skygreens yang dianggap dapat menjadi model pertanian hemat lahan, air, dan sumber energy. Model ini terliaht cocok diterapkan di negara-negara berpenduduk padat.

Skygreens menjadi fasilitas rendah karbon pertama di dunia sebagai tempat untuk menanam sayuran torpis. Fasilitas ini juga bisa menjadi jalan keluar untuk mencapai produksi tanaman sayur atau buah secara berkelanjutan. Skygreens diklaim tidak membutuhkan pencahayaan buatan untuk mengoptimalkan pertumbuhan tanamannya.

“Kebun jangkung” ini terdiri atas empat lantai kaca yang berisi rak portable. Jenis sayuran yang ditanam adalah kol dan selada china. Perkampungan kumuh juga dinilai tepat untuk mengadopsi perkebunan ini. Selain di singapura, Skygreens dikembangkan di Scranton, Pennsylvania, AS. Skygreens di AS ini menjadi pertanian vertical terbesar di dunia yang dibangun oleh WGSF.

Perangkat Lunak

PERTANIAN atau perkebunan vertical sejatinya telah diperjuangkan sejak 1999 oleh pakar ekologi Universitas Columbia, New York, Dickson Despommier. Ia berpendapat, sumber pangan manusia harus tumbuh sepanjang tahun di gedung-gedung pencakar langit.

Rak tanaman pertanian vertical bisa didesain dengan system tanpa tanah dan air menjadi nutrisi untuk tanaman. Lampu LED bisa dipakai sebagai sumber cahaya yang meniru sinar matahari. Perawatan kebun ini pun tak sulit, hanya memerlukan perangkat lunak yagn mengendalikan rak tanaman secar otomatis agar dapat berputar dan mendapat jumlah cahaya yang sama. Pompa air juga masih diperlukan untuk mendistribusikan air secara merata.

GSF mengungkapkan, pada 2011, dengan model pertanian vertical, mereka mampu memproduksi bayam, kangkung, tomat, selada, paprika, dan stroberi, 10 kali lebih banyak disbanding pertanian konvensional. Air yang dihemat pun lebih banyak daripada pertanian biasa.

Dalam ruangan

DI Kyoto, Jepang, perkebunan vertical yang disebut Nuvege dibangun di dalam ruangan berjendela. Ini mirip hanggar pesawat yang memiliki pencahayaan LED untuk meniru dua jenis klorofil: merah dan biru.

Nuvege dikabarkan mampu menghasilkan enam juta selada per tahun sehingga dapat memasok pasar domestic. Dalam rekayasa pertanian tersebut, awalnya menghabiskan energy listrik yang besar karena LED hanya bisa menghemat konsumsi listrik 28 persen. Namun para insinyur pencahayaan Philips di Belanda berhasil menemukan LED yang efisiensinya mencapai 68 persen sehingga dapat menekan biaya listrik secara signifikan.

Jumat, 08 Agustus 2014

Lampu

Lampu Gantung Dulu dan Sekarang


By Kevin


Lampu gantung model pendant adalah lampu gantung yang memiliki satu sumber cahaya. Apalikasinya bisa memadukan beberapa lampu pendant dengan variasi warna, ukuran, dan ketinggian.


Bentuk lampu dan model pendaran cahayanya sering menambah keindahan interior sebuah ruangan. Kita bisa menemukan fungsi itu pada chandelier atau lampu gantung.


LAMPU gantung dulu sering dibuat dengan gaya klasik untuk menghadirkan kesan mewah. Umumnya, lampu gantung itu dipasang pada rumah-rumah klasik yang ukurannya besar dan massif.


Di abad pertengahan, lampu gantung banyak digunakan dalam gereja-gereja dan gedung pertemuan. Fungsinya untuk menerangi ruang pertemuan yang berukuran besar.


Pada awalnya, lampu gantung dibuat dari bahan kayu dengan bentuk melingkar dan mempunyai empat ruas jari-jari. Pada lingkaran itu terdapat beberapa dudukan sebagai tempat lilin dan kemudian digantung dengan tali sehingga ketinggiannya dapat diatur dengan mudah.


Mulai abad ke-15, bentuk lampu gantung semakin kompleks, semisal dibuat dari bahan logam yagn berbentuk lingkaran atau mahkota. Saat itulah lampu gantung kian menunjukkan fungsi dekoratifnya. Lampu gantung yang lebih mewah ini biasa dijumpai pada rumah bangsawan.


Dalam perkembangan selanjutnya, semenjak teknologi pembuatan kaca ditemukan, lampu gantung semakin indah dan beragam bentuknya. Adanya tambahan Kristal kian mempercantik pendaran cahayanya.


Lampu gantung masa kini telah menemukan ciri kontemporernya. Rumah-rumah bergaya modern telah punya banyak pilihan lampu gantung yang sesuai dengan design arsitekturnya. Misalnya, ukuran yang disesuaikan dengan tinggi plafon, luas ruangan, dan kesesuaian warna ruangan.


Lampu gantung juga dapat diletakkan pada daerah void untuk menambah keanggunan ruang. Hiasan Kristal biasanya menjadi komponen yang selalu ada untuk menghadirkan eksotisme pendaran cahayanya.


Perawatan lampu gantung tak terlampau sulit. Secara berkala, cukuplah memeriksa fungsi bola-bola lampu. Untuk lampu gantung berukuran kecil hingga sedang, gunakan kain lembut atau flannel untuk membersihkan sudutnya.


Sementara lampu gantung berukuran besar memerlukan waktu khusus untuk membersihkan bagian-bagian tertentu secara bertahap.