Jumat, 25 Maret 2011

TENUN





Cantik dan Fungsional dalam Interior
Oleh Ninuk Mardiana Pambudy, diadaptasi oleh Kevin
Batik di dalam interior bukan hal baru, bahkan batik telah menghiasi ruangan-ruangan hotel berbintang lima berlian dan rumah-rumah di Indonesia dan beberapa negara. Akan tetapi, Indonesia masih memiliki kain tenun tradisional yang corak dan jenisnya tak kalah kaya, yaitu kain tenun tangan.
Sejumlah desainer interior dan desainer tekstil Indonesia telah bekerja menggunakan tenun alat tenun bukan mesin (ATBM) karya perajin. Meskipun menghadapi sejumlah tantangan, mereka mengakui peluang pemanfaatan tenun dalam produk interior.
Salah satunya adalah corak yang eksklusif. Andi Lim, misalnya, menggunakan tenun dari Cirebon untuk membuat kain pelapis bagian kepala tempat tidur, selain sarung bantal dan kain kursi. Dia juga menggunakan kain tenun Palembang yang sudah dimodifikasi warna dan ketebalan benangnya untuk kain kursi dan alas piring makan.
Desainer interior Agam Riadi juga sepakat kain tenun Nusantara yang kaya corak sangat mungkin dimanfaatkan dalam interior. Yang terpenting adalah kemampuan memadukan corak yang meriah tersebut dengan benda-benda lain di dalam ruangan.
Intinya, kain tenun dapat dimanfaatkan lebih dari sekadar sarung bantal. Itu pula yang diperlihatkan oleh 13 perancang interior beberapa waktu lalu di Jakarta saat ikut memeriahkan ulang tahun kedua Cita Tenun Indonesia (CTI). Selain Agam dan Andi, juga dipamerkan desain dari Ary Juwono, Anita Boentarman, Eko Priharseno, Bobos (Reza Wahjudi), Fifi Fimandjaja, Tuni Jie, Prasetio Budhi, Roland Adam, Joke Roos, Sammy H Syamsulhadi, dan Shirley Gouw.
Dalam kekayaan corak, warna, dan teksturnya, tenun ATBM dapat hadir dalam berbagai bentuk. Ary Juwono menghadirkan desain kamar mandi minimalis dengan penyekat memakai tenun NTT dalam corak primitifnya yang khas dan dalam warna tanah. Efeknya terasa dramatis ketika berpadu dengan bak mandi rendam dan lantai berwarna putih. Untuk mempertahankan efek minimalis dengan sentuhan tenun tetap hadir, Ary menggunakan corak tenun ke dalam ukiran di dinding, lantai, dan bak mandi.
Agam Riadi memilih kain limar dari Palembang dalam desain interior yang memadukan gaya klasik interior Barat dan Timur. Untuk tidak membuat ruangan terasa semakin penuh, Agam menggunakan tenun limar sebagai sarung bantal.
Paduan Timur dan Barat karya ke-13 perancang interior tersebut hadir dalam gaya minimalis, klasik, elegan, atau resor di ruang kerja, ruang tidur, ruang makan atau ruang keluarga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar